BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut
Lerner dalam Abdurrahman mengemukakan bahwa bahasa merupakan suatu sistem
komunikasi yang terintegrasi, mencakup bahasa ujaran, membaca, dan menulis.
Bahasa merupakan salah satu kemampuan terpenting manusia yang memungkinkan ia
unggul atas makhluk-makhluk lain di muka bumi. Bahasa merupakan suatu sistem
komunikasi yang terintegrasi, mencakup
bahasa ujaran, membaca, dan menulis.
Bahasa
merupakan alat komunikasi bagi setiap orang, termasuk anak-anak. Manusia
berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa.
Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan
tulisan, bacaan dan tanda atau symbol. Manusia berkomunikasi lewat bahasa
memerlukan proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya. Sebagai alat
komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan
kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia
mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan
masa depan kita. Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi
diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau
dipahami oleh orang lain.
Bahasa
sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan
alat untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan
sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal usul bangsa dan negara
kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik
sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.
Anak
dapat mengembangkan kemampuan sosialnya melalui berbahasa. Keterampilan bergaul
dalam lingkungan sosial dimulai dengan penguasaan kemampuan berbahasa. Melalui
bahasa, anak dapat mengekspresikan pikiran, sehingga orang lain memahaminya dan
menciptakan suatu hubungan sosial. Jadi, tidaklah mengherankan bahwa bahasa
dianggap sebagai salah satu indikator kesuksesan seorang anak.
Semenjak lahir ke dunia, setiap
waktu yang dilalui adalah momen pembelajaran bagi anak. Oleh karena itu, orang
tua, pengasuh maupun guru memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan
seorang anak. Perkembangan setiap anak adalah unik, pada usia yang sama bisa
jadi satu anak mengalami perkembangan yang berbeda dengan anak lainnya.
Meskipun demikian, ada hal-hal yang biasanya menjadi pola dalam setiap tahapan
perkembangan usia anak. Aspek perkembangan manusia termasuk
perkembangan bahasa, selalu ada berbagai faktor yang mempengaruhi.
Perkembangan bahasa untuk anak usia dini meliputi empat
pengembangan yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia
dari semua makhluk hidup di dunia ini, cuman manusia yang dapat membaca.
Membaca merupakan fungsi yang paling penting dalam hidup dan dapat dikatakan
bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Anak-anak dapat
membaca sebuah kata ketika usia mereka satu tahun, sebuah kalimat ketika
berusia dua tahun, dan sebuah buku ketika berusia tiga tahun dan mereka
menyukainya. Membaca
merupakan kebutuhan individu yang amat penting dan menduduki posisi sentral
bagi kehidupan manusia di era globalisai. Tanpa membaca manusia akan miskin
informasi, pengetahuan, dan tertinggal dari berbagai kemajuan dan perubahan
zaman.
B. Tujuan
Tujuan dari studi kasus ini
adalah untuk mengetahui permasalahan yang dialami anak usia dini yang ada di
lingkungan sekitar berkaitan dengan perkembangan bahasa dan sosialnya, sehingga
dapat memberikan solusi atau pemecahan
terhadap masalah yang dialami oleh anak.
C. Lingkup Pembahasan
Lingkup
pembahasan
dalam studi kasus ini yaitu
pada permasalahan-permasalahan yang terkait dengan perkembangan bahasa dan
sosial anak usia dini yang ada di lingkungan sekitar khususnya dalam hal membaca.
BAB II
DESKRIPSI MASALAH
A. Identitas Klien
Nama : Ambarwati
Sulistianingrum
Tempat/tgl. Lahir : Jakarta, 24 September 2005
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Pratekan
Nomor 21 RT 03/RW 03 Kel. Rawamangun Kec. Pulau Gadung Jakarta Timur
Jumlah saudara : 2 (dua)
Anak ke
: 2 (dua)
Identifikasi Orangtua
Ayah
Nama lengkap : Amin
Bhaktiar
Umur/TTL : 38 tahun / Jakarta,
15 April 1975
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Pratekan
Nomor 21 RT 03/RW 03 Kel. Rawamangun Kec. Pulau Gadung Jakarta Timur
Ibu
Nama lengkap : Dian Riani
Said
Umur/TTL : 34 tahun / Jakarta,
27 Agustus 1979
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jl. Pratekan
Nomor 21 RT 03/RW 03 Kel. Rawamangun Kec. Pulau Gadung Jakarta Timur
B. Uraian Kasus/Masalah
Masalah yang ditemukan di lapangan
adalah anak yang mengalami disleksia (kondisi kesulitan belajar
membaca taraf berat yang disebabkan oleh faktor
neurologis, genetika, dan osikologis dasar, serta sering menunjukkan kesulitan
dalam mengsosiasikan antara bentuk huruf dan bunyinya dan mereka sering terbalik atau
kebingungan terhadap huruf – huruf tertentu, tetapi mereka memiliki kecerdasan
rata – rata/normal bahkan ada ada di atas rata – rata) anak dari
pasangan Bapak Amin Bahktiar dan Ibu Dian Riani Said. Anak ini bertempat tinggal di Jl.. Pratekan Nomor 21 RT 03/RW
03 Kel. Rawamangun Kec. Pulau Gadung Jakarta Timur. Menurut hasil observasi,
tingkat pemahaman membaca anak masih sangat
kurang. Anak ini sudah diajar membaca sama guru hanya saja memang anak
ini mengalami kesulitan dalam mengingat huruf sehingga membuat anak mengalami
kesulitan dalam membaca. Dari hasil wawancara dengan orangtua dari anak ini, dapat diketahui bahwa orangtua
juga kurang dalam memperhatikan anaknya. Hal ini disebabkan karena orangtua
yang sibuk untuk mencari nafkah sehingga perhatian yang diberikan untuk anaknya
kurang, yang mana biasanya pada malam hari orangtua yang memberikan pengulangan
pelajaran atau hal yang mampu membantu anak untuk membaca. Saat orangtuanya bertanya pada guru di sekolah mengenai sikap anaknya saat
berada di dalam kelas, guru tersebut menjelaskan bahwa pada saat jam belajar
klien jarang memperhatikan apa yang diucapkan oleh gurunya, sibuk dengan
kegiatannya sendiri. Ketika disuruh membaca oleh gurunya, klien masih mengeja
huruf-hurufnya dan terkadang hanya diam saja. Disamping
itu klien juga jika jam istirahat hanya suka bermain sendiri dan sepertinya
klien susah untuk bergabung dengan teman kelasnya.
Dari hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan, diperoleh data yaitu sulit
konsentrasi dalam mengikuti mata pelajaran, sibuk dengan dunianya sendiri,
mengeja huruf atau biasa diam saat klien disuruh membaca. Klien juga kurang mampu menulis
huruf jika didampingi oleh guru.
Olehnya
itu, diperlukan kerjasama antara orangtua dengan guru untuk melatih
perkembangan anak khususnya bahasa agar anak mampu berkomunikasi dan bersosial
dengan baik.
C. Diagnosa
Melihat dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di lapangan, dapat disimpulkan bahwa anak mengalami gangguan dalam membaca atau biasa
disebut disleksia kondisi. Disleksia merupakan kesulitan
belajar membaca taraf berat yang disebabkan oleh faktor neurologis, genetika,
dan osikologis dasar, serta sering menunjukkan kesulitan dalam mengsosiasikan
antara bentuk huruf dan bunyinya
dan mereka sering terbalik atau kebingungan terhadap huruf-huruf tertentu, tetapi
mereka memiliki kecerdasan rata-rata/normal
bahkan ada di atas rata-rata.
BAB
III
KAJIAN
TEORI
A. Pengertian Disleksia
Disleksia merupakan
gangguan pada penglihatan dan pendengaran yang disebabkan oleh kelainan saraf
pada otak sehingga anak mengalami kesulitan membaca. Apa yang terjadi sebenanya
adalah ketidakmampuan dalam membedakan bunyi fonetik penyusun sebuah kata.
Indra pendengar mereka bisa menangkap kata-kata, namun ketika harus
menuliskannya, mereka mengalami kesulitan. Disleksia
merupakan kesulitan belajar membaca taraf berat yang
disebabkan oleh faktor
neurologis, genetika, dan osikologis dasar, serta sering menunjukkan kesulitan
dalam mengsosiasikan antara bentuk huruf dan bunyinya dan mereka sering terbalik atau
kebingungan terhadap huruf-huruf
tertentu, tetapi mereka memiliki kecerdasan rata-rata/normal bahkan ada ada di atas rata-rata.
Disleksia
berasal dari bahasa Yunani yang artinya “kesulitan membaca”. Bryan dan Bryan
seperti yang dikutip oleh Mercer (1979:200) mendefinisikan disleksia sebagai
suatu sindroma kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat,
mengintegrasikan komponen-komponen kata dan kalimat, dan dalam belajar segala
sesuatu yang berkenaan dengan waktu, arah, dan masa. Menurut Lerner seperti
yang dikutip oleh Mercer (1979:200) defini kesulitan belajar membaca atau
disleksia sangat bervariasi, tetapi semuanya menunjuk pada adanya gangguan pada
fungsi otak.
Penyandang
disleksia adalah orang yang tajam secara visual/gambar, berdaya intuisi tinggi,
dan pemikir multidimensional. Jadi, desleksia bukanlah sebuah ketidakmampuan
intelektual. Salah satu tanda disleksia adalah pada saat anda memberikan sebuah
buku yang belum dikenal kepada seorang anak untuk diceritakan kembali, maka dia
mengungkapkannya dengan gambar dan cerita yang tidak berkaitan.
Disleksia
ditandai dengan adanya kesulitan membaca pada anak-anak
yang seharusnya menunjukkan kemampuan dan motivasi untuk membaca secara fasih
dan akurat. Disleksia merupakan salah satu masalah tersering yang terjadi pada
anak-anak.
Terdapat beberapa pengertian disleksia yang
dikemukakan oleh para ahli seperti berikut :
a. Disleksia
sebagai kesulitan membaca berat pada anak yang berintelegensi normal dan
bermotivasi cukup, berlatar belakang budaya yang memadai dan berkesempatan
memperoleh pendidikan serta tidak bermasalah emosional (Guszak, 1985).
b. Disleksia
adalah suatu bentuk kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen hiamat, yang
secara historis menunjukkan perkembangan bahasa lambat dan hampir selalu
bermasalah dalam menulis dan mengeja
serta kesulitan dalam mempelajari sistem represensional misalnya berkenaan
dengan waktu, arah, dan masa (Bryan & Bryan dikutif Mercer, 1987).
c. Disleksia adalah bentuk kesulitan belaiar membaca dan menulis terutama
belajar mengeja secara betul dan mengungkapkan pikiran secara tertulis dan ia
telah pernah memanfaatkan sekolah normal serta tidak memperlihatkan
keterbelakangan dalam mata pelajaran-mata pelajaran lainnya ( Hornsby dalam
Sodiq, 1996:4)
National Institute of Child Health mendefinisikan disleksia sebagai
gangguan spesifik berbasis bahasa, yang bersifat bawaan dan ditandai dengan
kesulitan mengartikan satu kata tunggal, yang biasanya mencerminkan kemampuan
pemprosesan fonologis yang tidak memadai. Kesulitan mengartikan satu kata
tunggal ini sering kali tak terduga jika dikaitkan dengan usia serta kemampuan
kognitif dan akademis lainnya. Kesulitan ini bukanlah akibat dari kesulitan
umum yang berkaitan dengan perkembangan atau kerusakan indera fisik. Disleksia
ditunjukkan dengan kesulitan berbeda-beda dalam berbagai bentuk bahasa, yang
sering kali mancakup juga suatu masalah dalam menguasai ketrampilan menulis dan
mengeja.
B.
Ciri – ciri Anak
yang Mengalami Kesulitan Membaca (Disleksia)
Anak
kesulitan membaca sering memperhatikan kebiasaan membaca yang tidak wajar.
Mereka sering memperlihatkan adanya gerakan-gerakan yang penuh ketegangan,
seperti mengernyitkan kening, gelisah, irama suara meninggi atau menggigit
bibir. Mereka juga sering memperlihatkan adanya perasaan tidak aman yang
ditandai dengan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau mencoba melawan
guru. Anak kesulitan belajar membaca juga sering memegang buku bacaan yang
terlalu menyimpang dari kebiasaan anak normal, yaitu jarak antara mata dan buku
bacaan kurang dari 15 inci (kurang lebih 37,5cm). Selain itu juga anak yang
mengalami kesulitan membaca lamban, turun naik intonasinya, dan kata demi kata,
sering membalikan huruf-huruf dan kata-kata, mengubah huruf pada kata, sering
membalikan huruf-huruf dan kata-kata, mengubah huruf pada kata, kacau terhadap
kata-kata yang hanya sedikit berbeda susunannya misalnya : bau, buah, batu dan
lain sebagainya, mengabaikan tanda baca, dan mengganti satu kata lain, meskipun
kata yang digantikan tidak mempunyai arti dalam konteksnya.
Pada umumnya ketika seseorang sedang
membaca, sebenarnya ia sedang melakukan banyak langkah berikut:
1.
Membaca
cepat (screening) huruf demi huruf yang menyusun kalimat pada tulisan tersebut
dengan urutan yang benar, yaitu dari kiri ke kanan.
2.
Memindahkan
huruf-huruf tersebut ke dalam kotak dalam waktu yang singkat.
3.
Mengenali
pengelompokan huruf-huruf yang berbeda yang membentuk suatu kata tertentu (hal
ini melibatkan identifikasi terhadap masing-masing huruf), dengan berbagai
macam bentuk font atau model tulisan tangan yang ada.
4.
Membandingkan
pengelompokan (dengan cara momor 3) dengan kata-kata yang sudah dikenali yang
tersimpan dalam memori otak untuk mengenali bunyi dan arti kata-kata tersebut
secara keseluruhan.
5.
Mengingat
arti kata-kata tersebut dan menghubungkannya dengan kata-kata pada kalimat berikutnya
untuk memahami seluruh isi tulisan.
6.
Menyelesaikan
seluruh proses tersebut dalam hitungan detik, seiring dengan perpindahan
pandangan mata yang beranjak dari kalimat satu ke kalimat-kalimat berikutnya.
Proses tersebut adalah proses yang
dilakukan oleh orang normal dalam membaca. Namun, jika ada salah satu saja
proses atau langkah di atas yang terlewati, seseorang akan mengalami kesulitan
dalam membaca. Bagi para penderita diseleksia, masalah utama dalam membaca
terletak pada menghubungkan antara kumpulan huruf dalam sebuah tulisan dengan
kata-kata yang mereka ketahui melalui pengucapannya.
Ada sepuluh tanda-tanda umum yang
dapat digunakan untuk melakukan identifikasi dini adanya kesulitan pemprosesan
yang akan mempengaruhi kemampuan membaca, yaitu:
1. Tidak dapat menyebutkan nama-nama
huruf atau menyanyikan lagu abjad, terutama jika si anak memiliki kosakata yang
baik
2. Mengalami kesulitan dalam
mengidentifikasi kata-kata yang dimulai dengan bunyi yang sama dari daftar
tertulis, atau tidak dapat membedakan apakah dua kata yang terdiri dari satu
suku kata punya bunyi yang sama atau berbeda (misalnya “get” dan “bet” atau
“sit” dan “sat”). Anak-anak yang mulai duduk di taman kanak-kanak, seharusnya
dapat mengenali bunyi awal dan akhir
3. Kesulitan dalam menyebutkan kata
yang berima atau mengenali rima
4. Masalah dalam pengenalan fonologis,
yaitu kemampuan mengidentifikasi dan mengurutkan bunyi-bunyi dalam sebuah kata
(seperti, jika aku memilih kata “bat” dan aku hilangkan huruf b-nya, jadi kata
apa ya?)
5. Tidak mengenal nama-nama warna atau
bentuk
6. Memiliki masalah wicara dan
artikulasi, khususnya yang melibatkan penggunaan oromotor (kemampuan menggerak
otot mulut dan mengatur sekresi seperti air ludah)
7. Sulit mengingat urut-urutan otomatis
seperti angka atau hari-hari dalam seminggu
8. Masalah yang berkaitan dengan
kegiatan motorik halus seperti menggambar lingkaran atau menyalin huruf, atau
rangkaian motorik kasar seperti meloncat atau mengendarai sepeda roda tiga
9. Sulit mengingat kembali kata-kata
khusus (misalnya, menyebutkan nama gambar benda yang sudah dikenal,
kecenderungan untuk mengganti kata yang dimaksud dengan kata bermakna serupa
tetapi lebih jarang digunakan, atau mengganti dengan kata-kata yang memiliki
hubungan semantis, seperti “jeruk” diganti “apel”, “mobil” diganti dengan
“truk”)
10.
Kesalahan
pengurutan dalam wicara (“kepala” dibaca dengan “kelapa”)
11.
Masalah
dalam ingatan verbal, yaitu sulit mengingat kalimat atau cerita yang baru saja
disampaikan.
Jika lebih dari satu atau dua tanda
itu dijumpai pada seorang anak, sebaiknya dilakukan evaluasi yang lebih lengkap
oleh seorang psikolog yang kompeten dengan spesialisasi dalam bidang membaca
atau seorang neuropsikolog klinis yang dapat memastikan kesulitan pemrosesan
dalam hal membaca dan juga cara-cara yang paling mungkin digunakan si anak
untuk mempelajari koneksi huruf-bunyi.
Pada anak disleksia
kesalahan-kesalahan membaca oral tersebut sering disertai oleh kelainan bicara,
yaitu :
(1) gangguan artikulasi
(2) gagap, dan
(3) pembalikan konsep waktu dan ruang
misalnya kacau terhadap konsep belakang dan muka,atas bawah, kemarin dan besok
Selain itu pada anak disleksia
sering juga ditandai adanya bentuk kesalahan mengeja dan kesalahan tulis,
misalnya jika didiktekan kata pagar maka ditulis papar.
Menurut Ekwall & Shanker 1988
(dalam M.Sodia, A, 1996:6) ada beberapa simtom berkaitan dengan kasus kesulitan
belajar membaca berat (disleksia):
1.
Pembalikan
huruf dan kata, misalnya membalikan huruf b dengan d; p dengan a, u dengan n;
kata kuda dengan daku, palu dengan lupa; tali dengan ilat; satu dengan utas.
2.
Pengingatan
pada kata mengalami kesulitan atau tidak menentu (eratik)
3.
Membaca
ulang oral (secara lisan) tak bertambah baik setelah menyusul.
4.
Membaca
tanpa suara (dalam hati) atau membaca oral (secara lisan) yang pertama.
5.
Ketidaksanggupan
menyimpan informasi dalam memori sampai waktu diperlukan.
6.
Kesulitan
dalam konsentrasi.
7.
Koordinasi
motorik tangan-mata lemah.
8.
Kesulitan
pada pengurutan.
9.
Ketaksanggupan
bekerja secara tepat.
10.
Penghilangan
tentang kata-kata dan frasa.
11.
Kekacauan
berkaitan dengan membaca secara lisan (oral) misalnya tak mampu membedakan
antara d dan p.
12.
Diskriminasi
auditori lemah.
13.
Miskin
dalam sintaksis (ilmu tata bahasa), gagap, dan bicara terputus-putus.
14.
Prestasi
belajar dalam berhitung tinggi dari pada dalam membaca dan mengeja.
15.
Hyperaktivitas.
Sementara itu Guszak ( dalam M.Sodik
A, 1996: 6) mengemukakan ciri-ciri anak disleksia sebagai berikut:
1. Membalikan huruf atau kata.
2. Kesulitan/tak mampu mengingat kata.
3. Kesulitan/tak mampu menyimpan
informasi dalam memori
4. Sulit berkonsentrasi.
5. Sulit dalam melihat keterhubungan
(relationship).
6. Impulsif
7. Sulit melakukan koordinasi
tangan-mata.
8. Sulit dalam segi mengurutkan.
9. Membaca lambat.
10. Penanggalan kata, frasa dan
sebagainya.
11. Kekacauan membaca secara oral.
12. Hyperaktif, dan
13. Kinerja matematika secara signifikan
lebih tinggi dari pada kinerja membaca.
Ada cara praktis yang dapat
digunakan oleh orang tua untuk mengidentifikasin apakah anaknya mengalami
disleksia atau tidak, yaitu dengan cara memberikan buku yang belum pernah anak
tahu sebelumnya untuk dibaca oleh anak. Anak mungkin akan membuat cerita
berdasarkan gambar-gambar yang ada di buku tersebut, tetapi antara gambar dan
cerita tidak berkaitan. Disleksia akan diketahui setelah anak diminta untuk
memfokuskan perhatiannya pada kata-kata dan membacanya dengan suara keras, dan
anak diminta untuk menceritakan ulang teks-teks yang telah dibaca. Apabila anak
tersebut tidak bisa melakukannya dan malah bercerita berdasarkan
interpretasinya atas gambar-gambar yang ada di buku tersebut, kemungkinan besar
anak tersebut menyandang disleksia.
Secara spesifik ciri-ciri anak
disleksia dalam membaca adalah sebagai berikut:
1. Membaca dengan amat lamban dan
terkesan tidak yakin dengan apa yang ia ucapkan
2. Menggunakan jarinya untuk mengikuti
pandangan matanya yang beranjak dari satu teks ke teks berikutnya.
3. Melewatkan beberapa suku kata, kata,
fase, bahkan baris-baris dalam teks yang dibaca.
4. Menambahkan kata-kata atau
frasa-frasa yang tidak ada dalam teks yang dibaca.
5. Membolak-balik susunan huruf atau
suku kata dengan memasukkan huruf-huruf lain.
6. Salah melafalkan kata-kata yang
sedang ia baca walaupun kata-kata tersebut sudah akrab.
7. Mengganti satu katu dengan kata
lainnya sekalipun kata yang diganti tidak memiliki arti penting dalam teks
yang dibaca.
8. Membuat kata-kata sendiri yang tidak
memiliki arti
9. Mengabaikan tanda-tanda baca
Secara spesifik ciri-ciri anak
disleksia ketika belajar menulis adalah sebagai berikut:
1. Menuliskan huruf-huruf dengan urutan
yang salah dalam sebuah kata
2. Tidak menuliskan sejumlah huruf dalam
kata-kata yang ingin ia tulis
3. Menambahkan huruf-huruf pada
kata-kata yang ingin ia tulis
4. Mengganti satu huruf dengan huruf
lainnya, sekalipun bunyi huruf-huruf tersebut tidak sama
5. Menuliskan sederet huruf yang tidak
memiliki hubungan sama sekali dengan bunyi kata-kata yang ingin dia tuliskan
6. Mengabaikan tanda-tanda baca yang
terdapat dalam teks-teks yang sedang dia baca.
C. Faktor
Penyebab Disleksia
Penyebab utama disleksia
adalah faktor internal, yaitu kemungkinan adanya disfungsi
neurologis.Disfungsi neurologis sering tidak hanya menyebabkan kesulitan
belajar tetapi juga menyebabkan tunagrahita dan gangguan emosional. Berbagai
faktor yang dapat menyebabkan disfungsi neurologis yang pada gilirannya dapat
menyebabkan kesulitan belajar antara lain:
1. Faktor genetik
2. Luka pada otak karena trauma
fisik atau karena kekurangan oksigen
3. Biokimia yang hilang (misalnya
biokimia yang diperlukan untuk memfungsikan syaraf pusat)
4. Biokimia yang merusak otak
(misalnya zat pewarna pada makanan), pencemaran lingkungan (misalnya pencemaran
timah hitam), gizi yang tidak memadai.
5. Pengaruh-pengaruh psikologis dan
sosial yang merugikan perkembangan anak (deprivasi lingkungan).
Dari berbagai penyebab
tersebut dapat menimbulkan gangguan dari taraf yang ringan hingga taraf berat.
Berbagai Kesalahan Membaca
Anak-anak yang mengalami
disleksia mengalami berbagai kesalahan dalam membaca sebagai berikut:
1. Penghilangan huruf atau
kata
Penghilangan huruf atau kata
biasanya terjadi pada pertengahan atau akhir kata atau kalimat. Penyebab dari
penghilangan huruf tersebut adalah karena anak menganggap huruf atau kata yang
dihilangkan tersebut tidak diperlukan. Contoh penghilangan huruf atau kata
adalah “baju anak itu merah” dibaca “baju itu merah”.
2. Penyelipan kata
Penyelipan kata terjadi karena
anak kurang mengenal huruf, membaca terlalu cepat, atau karena bicaranya
melampaui kecepatan membacanya. Contohnya adalah kalimat “baju mama di lemari”
dibaca “baju mama ada di lemari”.
3. Penggantian kata
Penggantian kata merupakan
kesalahan yang banyak terjadi. Hal ini disebabkan karena anak tidak memahami
kata tersebut sehingga hanya menerka-nerka saja. Contohnya adalah kalimat “tas
Ayah di dalam mobil” dibaca “tas Bapak di dalam mobil”.
4. Pengucapan kata salah
Pengucapan kata yang salah
terdiri dari tiga macam,yaitu: (1) pengucapan kata yang salah dan makna
berbeda, (2) pengucapan kata salah tetapi makna sama, (3) pengucapan kata salah
dan tidak bermakna. Keadaan semacam ini dapat terjadi karena anak tidak
mengenal huruf sehingga menduga-duga saja, mungkin karena membaca terlalu
cepat, karena perasaan tertekan atau takut pada guru, atau karena perbedaan
dialek anak dengan bahasa Indonesia yang baku. Contoh pengucapan kata yang
salah dan makna berbeda adalah kalimat “baju Bibi baru” dibaca “baju Bibi
biru”; contoh pengucapan kata salah tetapi makna sama adalah kalimat “Kakak
pergi ke sekolah” dibaca “Kakak pigi ke sekolah” dan contoh pengucapan kata
salah dan tidak bermakna adalah kalimat “Bapak beli duren” dibaca “Bapak bei
buren”.
5. Pengucapan kata dengan
bantuan guru
Terjadi jika guru ingin
membantu anak melafalkan kata-kata. Hal ini terjadi karena sudah beberapa menit
ditunggu oleh guru anak belum juga melafalkan kata-kata yang diharapkan. Anak
yang memerlukan bantuan ini biasanya karena mengalami kekurangan dalam mengenal
huruf atau karena takut resiko jika terjadi kesalahan. Anak semacam ini
biasanya juga memiliki kepercayaan diri kurang, terutama pada saat menghadapi
tugas membaca.
6. Pengulangan
Pengulangan dapat terjadi pada
kata, suku kata, atau kalimat. Contoh pengulangan adalah “Bab-ba-ba Bapak
menulis su-su-surat”. Pengulangan terjadi mungkin karena kurang mengenal huruf
sehingga harus memperlambat membaca sambil mengingat-ingat nama huruf yang
kurang dikenal tersebut. Kadang-kadang anak sengaja mengulang kalimat untuk
lebih memahami arti kalimat tersebut.
7. Pembalikan huruf
Pembalikan huruf terjadi
karena anak bingung posisi kiri-kanan, atau atas-bawah. Pembalikan terjadi
terutama pada huruf-huruf yang hampir sama
seperti d dengan b, p dengan q atau g, m dengan n atau
w.
8. Pembetulan sendiri
Pembetulan sendiri dilakukan
oleh anak jika ia menyadari adanya kesalahan. Karena kesadaran akan adanya
kesalahan, anak lalu mencoba membetulkan sendiri bacaannya.
9. Ragu-ragu dan
tersendat-sendat
Anak yang ragu-ragu terhadap
kemampuannya sering membaca dengan tersendat-sendat. Murid yang ragu-ragu dalam
membaca sering dianggap bukan sebagai kesalahan. Meskipun demikian guru umumnya
berupaya untuk memperbaiki karena dianggap sebagai kebiasaan yang tidak baik.
Keraguan dalam membaca juga sering disebabkan anak kurang mengenal huruf atau
karena kekurangan pemahaman.
D.
Karakteristik disleksia
Ada empat kelompok karakteristik kesulitan belajar
membaca, yaitu kebiasaan membaca, kekeliruan mengenal kata, kekeliruan
pemahaman, dan gejala-gejala serba aneka.
·
Dalam kebiasaan membaca anak yang mengalami kesulitan
belajr membaca sering tampak hal-hal yang tidak wajar, sering menampakkan
ketegangannya seperti mengernyitkan kening, gelisah, irama suara meninggi, atau
menggigit bibir. Mereka juga merasakan perasaan yang tidak aman dalam dirinya
yang ditandai dengan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau melawan
guru. Pada saat mereka membaca sering kali kehilangan jejak sehingga sering
terjadi pengulangan atau ada barisyang terlompat tidak terbaca.
·
Dalam kekeliruan mengenal kata ini memcakup
penghilangan, penyisipan, penggantian, pembalikan, salah ucap, perubahan
tempat, tidak mengenal kata, dan tersentak-sentak ketika membaca.
·
Kekeliruan memahami bacaan tampak pada banyaknya
kekeliruan dalam menjawab pertanyaan yang terkait dengan bacaan, tidak mampu
mengurutkan cerita yang dibaca, dan tidak mampu memahami tema bacaan yang telah
dibaca.
·
Gejala serba aneka tampak seperti membaca kata demi
kata, membaca dengan penuh ketegangan, dan membaca dengan penekanan yang tidak
tepat.
BAB
IV
RANCANGAN
SOLUSI
Adapun solusi atau pemecahan masalah
yang ditawarkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi anak yang mengalami gangguan membaca atau yang biasa disebut Disleksia dapat menggunakan
metode-metode berikut, diantaranya :
Ada
beberapa metode pengajaran membaca bagi anak berkesulitan belajar, yaitu:
1. Metode
Fernald
Merupakan
metode pengajaran membaca multisensoris yang sering dikenal dengan metode VAKT
(visual, auditory, kinesthetic, and tactile). Metode ini menggunakan materi
bacaan yang dipilih dari kata-kata yang diucapkan oleh anak, dan tiap kata
diajarkan secara utuh. Metode ini memiliki 4 tahapan, yaitu:
a. Tahap
pertama, guru menulis kata yang hendak dipelajari di atas kertas dengan krayon.
Selanjutnya anak menelusuri tulisan tersebut dengan jarinya (tactile and
kinesthetic). Pada saat anak menelusuri tulisan tersebut, anak melihat tulisan
(visual), dan mengucapkannya dengan keras (auditory). Proses semacam ini
diulang-ulang sehingga anak dapat menulis kata tersebut dengen benar tanpa
melihat contoh. Jika anak telah dapat membaca dan menulis dengan benar, bahan
bacaan tersebut disimpan.
b. Tahap
kedua, anak tidak terlalu lama diminta menelusuri tulisan-tulisan dengan jari,
tetapi mempelajari tulisan guru dengan melihat guru menulis, sambil
mengucapkannya.
c. Tahap
ketiga, anak-anak mempelajari kata-kata baru dengan melihat tulisan yang
ditulis di papan tulis atau tulisan cetak, dan mengucapkan kata tersebut sambil
menulis. Pada tahap ini anak mulai membaca tulisan dari buku.
d. Tahap
keempat, anak mampu mengingat kata-kata yang dicetak atau bagian-bagian dari
kata yang telah dipelajari.
2. Metode
Gillingham
Merupakan
pendekatan terstruktur taraf tinggi yang memerlukan lima jam pelajaran selama
dua tahun. Aktivitas pertama diarahkan pada belajar berbagai bunyi huruf dan
perpaduan huruf-huruf tersebut. Anak menggunakan teknik menjiplak untuk
mempelajari berbagai huruf. Bunyi-bunyi tunggal huruf selanjutnya dikombinasikan
ke dalam kelompok-kelompok yang lebih besar dan kemudian program fonik
diselesaikan.
3. Metode
Analisis Glass
Merupakan
suatu metode pengajaran melalui pemecahan sandi kelompok huruf dalam kata.
Metode ini bertolak dari asumsi yang mendasari membaca sebagai pemecahan sandi
atau kode tulisan. Ada dua asumsi yang mendasari metode ini, yaitu:
1. Pertama,
proses pemecahan sandi (decoding) dan membaca (reading) merupakan kata yang
berbeda.
2. Kedua,
pemecahan sandi mendahului membaca.
Pemecahan
sandi didefinisikan sebagai menentukan bunyi yang berhubungan dengan suatu kata
tertulis secara tepat. Membaca didefinisikan sebagai menurunkan makna dari
kata-kata yang berbentuk tulisan. Jika anak tidak dapat melakukan pemecahan
sandi tulisan secara efisien, maka mereka tidak akan belajar membaca. Glass
mengemukakan adanya empat langkah dalam mengajarkan kata, yaitu:
1. Mengidentifikasi
keseluruhan kata, huruf, dan bunyi kelompok-kelompok huruf.
2. Mengucapkan
bunyi-bunyi kelompok huruf-huruf.
3. Menyajikan
kepada anak, huruf atau kelompok huruf dan meminta untuk mengucapkannya.
4. Guru
mengambil beberapa huruf atau pada kata tertulis dan anak diminta mengucapkan
kelompok huruf yang masih tersisa.
Contoh
pengajaran dengan metode ini dengan menggunakan kata bapak adalah
sebagai berikut:
Kepada
anak diperlihatkan kata bapak yang tertulis pada kartu. Guru
bertanya, “Dalam kata bapak ini, bunyi apa yang dibuat oleh
huruf b? Bunyi apa yang dibuat oleh huruf apak? Jika
huruf k digunakan untuk menggantikan huruf b, bagaimana bunyi
kata itu?
Dengan
metode ini anak akan merespons secara visual maupun auditoris terhadap
kelompok-kelompok huruf. Menurut Glass hal semacam ini memungkinkan anak mampu
memecahkan sandi, dan mengumpulkan kembali huruf-huruf ke dalam bentuk kata
yang utuh.
Beberapa
waktu yang lalu, saya bersama teman saya mencoba untuk membuat rancangan
intervensi untuk anak disleksia. tapi perlu digarisbawahi bahwa rancangan
intervensi ini tidak dapat digunakan untuk semua penyandang disleksia. Jujur,
kami juga belum sempat mengujicobakan permainan yang kami buat ini, tetapi
permainan kami ini mengadaptasi dari beberapa metode yang sudah dijelaskan
diatas.
Permainan
ini kami beri nama “MY SCRABBLE”. Memang permainan ini mengadaptasi dari
permainan scrabble pada umumnya, tetapi dengan beberapa modifikasi.
1. Tujuan
spesifik : permainan ini didesain untuk
membantu anak untuk memaksimalkan kemampuannya dalam mengidentifikasi huruf dan
untuk memahami kata-kata yang tersusun melalui rangkaian huruf-huruf dengan
media bermain.
2. Cara
bermain :
My
Scrabble:
Alat:
Huruf timbul, papan scrabble, kartu yang berisi kata-kata, dan kartu bintang.
Tahap 1:
Anak
diberikan satu kata sederhana dari kartu yang telah disediakan, kemudian
pendamping menyebutkan kata tersebut. Pendamping kemudian mengambilkan
huruf-huruf yang merangkai kata tersebut dan diserahkan kepada anak. Anak
diminta untuk mengamati huruf, meraba bentuknya dan melafalkan masing-masing
huruf dengan lantang. Kemudian anak diminta untuk menyusun huruf tersebut
sesuai dengan kata yang telah disebutkan oleh pendamping pada papan scrabble
yang telah disediakan. Jika benar, pendamping akan mengambil kartu berikutnya
dan menyebutkan kata tersebut dan anak diminta untuk memainkan sesuai dengan
prosedur yang telah tertulis di atas. Jika gagal pada percobaan pertama,
pendamping diminta untuk mengulang prosedur sesuai dengan percobaan pertama.
Jika anak tetap gagal pada percobaan ke dua, anak tetap diperbolehkan untuk
melanjutkan permainan agar anak tidak bosan. Jangan lupa berikan kartu bintang
dan pujian jika anak berhasil memainkan mainan dari tiap kartu yang diambil.
Tujuan
: tahap ini diberikan jika anak belum begitu lancar dalam memahami kata namun
sudah cukup baik dalam mengenal huruf. Sehingga anak dapat belajar mengenai
rangkaian kata sekaligus memperdalam ingatan tentang bentuk-bentuk huruf yang
kurang dikuasainya.
Tahap 2:
Anak
diminta untuk menyebutkan satu kata bebas untuk memulai permainan. Anak diminta
untuk mengambil huruf, kemudian mengeja secara cepat huruf-huruf tersebut sambil
diletakkan pada papan scrabble dengan susunan tertentu. Jika anak gagal dalam
mengambil huruf atau pada saat mengeja huruf sesuai dengan kata yang telah
disebutkan oleh anak, pendamping harus membantu anak untuk membetulkan
kesalahannya. Jika anak berhasil dalam permainan pertamanya, anak diperbolehkan
untuk melanjutkan permainan dengan cara menyebutkan kembali kata bebas dimana
salah satu huruf pada kata bebas tersebut harus ada pada kata yang telah
tersusun pada papan scrabble. Jika anak terlihat kesulitan untuk menyebutkan
kata bebas tersebut, anak diperbolehkan untuk memilih kata dari kartu kata yang
telah disediakan yang memungkinkan untuk dipasangkan pada kata yang telah
tersusun pada papan scrabble. Jika anak terlihat kesulitan untuk menyebutkan ataupun
mencari kata yang memungkinkan untuk dipasangkan pada papan, pendamping harus
membantu dengan cara menstimulasi anak atau memilihkan beberapa kata agar dapat
dipilih oleh anak dengan syarat kata tersebut harus dapat dipasangkan pada
papan scrabble dengan susunan huruf yang tepat. Jika anak memilih kartu yang
berisi kata-kata, anak tetap harus mengeja huruf dan membacanya dengan suara
lantang. Jangan lupa untuk memberikan kartu bintang dan pujian jika anak
berhasil menyelesaikan permainannya.
Tujuan
: tahap kedua bertujuan untuk memaksimalkan kemampuan anak dalam merangkai
kata-kata. Tahap ini diberikan jika anak dinilai sudah dapat mengenal huruf
dari A-Z dengan baik namun kemampuan membaca dan merangkai katanya belum
berkembang dengan optimal.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim.
Retardasi Mental. http://mustwkupang.blogspot.com/2010/10/dyslogia-karena-gangguan-mental.html
, diakses Senin 17 Desember 2013.
______,
Pengertian dan Akibat dari Disleksia.
http://dloepiq.blogspot.com/2012/12/pengertian-dan-akibat-dari-disleksia.html, diakses 17 Desember 2013
Davidson, C Gerald, dkk.
2006. Psikologi Abnormal. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Kalengkongan, Kendis. Jurnal Kasus Disleksia dan contoh Kasus.
http://catatankeperawatankend.blogspot.com/2013/04/jurnal-kasus-disleksia-dan-contoh-kasus.html,
diakses
Senin, 17
Desember 2013.
Larasati, Septi Putri. Dyslexia. http://nyepsycho.wordpress.com/tag/dyslexia/, diakses Senin 17 Desember 2013.
Romiariyanto. Disleksia. http://romiariyanto.blogspot.com/2011/04/disleksia.html, diakses Senin 17
Desember 2013.
Weinstein, Lissa. 2008. Living With Dyslexia. Bandung: Qanita.
Yustitia,
Dwi Rima. Kesulitan Membaca (Disleksia). http://rimamss.blogspot.com/2013/01/pengertian-disleksia.html
, diakses Senin 17 Desember 2013.