Senin, 10 Februari 2014

KESULITAN BELAJAR DISLEKSIA

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Menurut Lerner dalam Abdurrahman mengemukakan bahwa bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang terintegrasi, mencakup bahasa ujaran, membaca, dan menulis. Bahasa merupakan salah satu kemampuan terpenting manusia yang memungkinkan ia unggul atas makhluk-makhluk lain di muka bumi. Bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang  terintegrasi, mencakup bahasa ujaran, membaca, dan menulis.
Bahasa merupakan alat komunikasi bagi setiap orang, termasuk anak-anak. Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan dan tanda atau symbol. Manusia berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya. Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita. Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain.
Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.
Anak dapat mengembangkan kemampuan sosialnya melalui berbahasa. Keterampilan bergaul dalam lingkungan sosial dimulai dengan penguasaan kemampuan berbahasa. Melalui bahasa, anak dapat mengekspresikan pikiran, sehingga orang lain memahaminya dan menciptakan suatu hubungan sosial. Jadi, tidaklah mengherankan bahwa bahasa dianggap sebagai salah satu indikator kesuksesan seorang anak.
Semenjak lahir ke dunia, setiap waktu yang dilalui adalah momen pembelajaran bagi anak. Oleh karena itu, orang tua, pengasuh maupun guru memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan seorang anak. Perkembangan setiap anak adalah unik, pada usia yang sama bisa jadi satu anak mengalami perkembangan yang berbeda dengan anak lainnya. Meskipun demikian, ada hal-hal yang biasanya menjadi pola dalam setiap tahapan perkembangan usia anak. Aspek perkembangan manusia termasuk perkembangan bahasa, selalu ada berbagai faktor yang mempengaruhi.
Perkembangan bahasa untuk anak usia dini meliputi empat pengembangan yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia dari semua makhluk hidup di dunia ini, cuman manusia yang dapat membaca. Membaca merupakan fungsi yang paling penting dalam hidup dan dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Anak-anak dapat membaca sebuah kata ketika usia mereka satu tahun, sebuah kalimat ketika berusia dua tahun, dan sebuah buku ketika berusia tiga tahun dan mereka menyukainya. Membaca merupakan kebutuhan individu yang amat penting dan menduduki posisi sentral bagi kehidupan manusia di era globalisai. Tanpa membaca manusia akan miskin informasi, pengetahuan, dan tertinggal dari berbagai kemajuan dan perubahan zaman.

B. Tujuan
Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk mengetahui permasalahan yang dialami anak usia dini yang ada di lingkungan sekitar berkaitan dengan perkembangan bahasa dan sosialnya, sehingga dapat memberikan solusi atau pemecahan terhadap masalah yang dialami oleh anak.




C. Lingkup Pembahasan
Lingkup pembahasan dalam studi kasus ini yaitu pada permasalahan-permasalahan yang terkait dengan perkembangan bahasa dan sosial anak usia dini yang ada di lingkungan sekitar khususnya dalam hal membaca.


















BAB II
DESKRIPSI MASALAH

A.  Identitas Klien
Nama                                :    Ambarwati Sulistianingrum
Tempat/tgl. Lahir             :    Jakarta, 24 September  2005
Agama                              :    Islam
Jenis Kelamin                 :    Perempuan
Alamat                              :    Jl. Pratekan Nomor 21 RT 03/RW 03 Kel. Rawamangun Kec. Pulau Gadung Jakarta Timur
Jumlah saudara             :    2 (dua)
Anak ke                            :    2 (dua)

Identifikasi Orangtua
Ayah
Nama lengkap                :    Amin Bhaktiar
Umur/TTL                         :    38 tahun / Jakarta, 15 April 1975
Pendidikan                      :    SMA
Pekerjaan                        :    Wiraswasta
Alamat                              :    Jl. Pratekan Nomor 21 RT 03/RW 03 Kel. Rawamangun Kec. Pulau Gadung Jakarta Timur
Ibu
Nama lengkap                :    Dian Riani Said
Umur/TTL                         :    34 tahun / Jakarta, 27 Agustus 1979
Pendidikan                      :    SMA
Pekerjaan                        :    Ibu Rumah Tangga
Alamat                              :    Jl. Pratekan Nomor 21 RT 03/RW 03 Kel. Rawamangun Kec. Pulau Gadung Jakarta Timur

B. Uraian Kasus/Masalah
Masalah yang ditemukan di lapangan adalah anak yang mengalami disleksia (kondisi kesulitan belajar membaca taraf berat yang disebabkan oleh faktor neurologis, genetika, dan osikologis dasar, serta sering menunjukkan kesulitan dalam mengsosiasikan antara bentuk huruf dan bunyinya dan mereka sering terbalik atau kebingungan terhadap huruf – huruf tertentu, tetapi mereka memiliki kecerdasan rata – rata/normal bahkan ada ada di atas rata – rata) anak dari pasangan Bapak Amin Bahktiar dan Ibu Dian Riani Said. Anak ini bertempat tinggal di Jl.. Pratekan Nomor 21 RT 03/RW 03 Kel. Rawamangun Kec. Pulau Gadung Jakarta Timur. Menurut hasil observasi, tingkat pemahaman membaca anak masih sangat kurang. Anak ini sudah diajar membaca sama guru hanya saja memang anak ini mengalami kesulitan dalam mengingat huruf sehingga membuat anak mengalami kesulitan dalam membaca. Dari hasil wawancara dengan orangtua dari anak ini, dapat diketahui bahwa orangtua juga kurang dalam memperhatikan anaknya. Hal ini disebabkan karena orangtua yang sibuk untuk mencari nafkah sehingga perhatian yang diberikan untuk anaknya kurang, yang mana biasanya pada malam hari orangtua yang memberikan pengulangan pelajaran atau hal yang mampu membantu anak untuk membaca. Saat orangtuanya bertanya pada guru di sekolah mengenai sikap anaknya saat berada di dalam kelas, guru tersebut menjelaskan bahwa pada saat jam belajar klien jarang memperhatikan apa yang diucapkan oleh gurunya, sibuk dengan kegiatannya sendiri. Ketika disuruh membaca oleh gurunya, klien masih mengeja huruf-hurufnya dan terkadang hanya diam saja. Disamping itu klien juga jika jam istirahat hanya suka bermain sendiri dan sepertinya klien susah untuk bergabung dengan teman kelasnya.
Dari hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan, diperoleh data yaitu sulit konsentrasi dalam mengikuti mata pelajaran, sibuk dengan dunianya sendiri, mengeja huruf atau biasa diam saat klien disuruh membaca. Klien juga kurang mampu menulis huruf jika didampingi oleh guru.
Olehnya itu, diperlukan kerjasama antara orangtua dengan guru untuk melatih perkembangan anak khususnya bahasa agar anak mampu berkomunikasi dan bersosial dengan baik.
C.    Diagnosa
Melihat dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di lapangan, dapat disimpulkan bahwa anak mengalami gangguan dalam membaca atau biasa disebut disleksia kondisi. Disleksia merupakan kesulitan belajar membaca taraf berat yang disebabkan oleh faktor neurologis, genetika, dan osikologis dasar, serta sering menunjukkan kesulitan dalam mengsosiasikan antara bentuk huruf dan bunyinya dan mereka sering terbalik atau kebingungan terhadap huruf-huruf tertentu, tetapi mereka memiliki kecerdasan rata-rata/normal bahkan ada di atas rata-rata.










BAB III
KAJIAN TEORI

A.  Pengertian Disleksia
Disleksia merupakan gangguan pada penglihatan dan pendengaran yang disebabkan oleh kelainan saraf pada otak sehingga anak mengalami kesulitan membaca. Apa yang terjadi sebenanya adalah ketidakmampuan dalam membedakan bunyi fonetik penyusun sebuah kata. Indra pendengar mereka bisa menangkap kata-kata, namun ketika harus menuliskannya, mereka mengalami kesulitan. Disleksia merupakan kesulitan belajar membaca taraf berat yang disebabkan oleh faktor neurologis, genetika, dan osikologis dasar, serta sering menunjukkan kesulitan dalam mengsosiasikan antara bentuk huruf dan bunyinya dan mereka sering terbalik atau kebingungan terhadap huruf-huruf tertentu, tetapi mereka memiliki kecerdasan rata-rata/normal bahkan ada ada di atas rata-rata.
Disleksia berasal dari bahasa Yunani yang artinya “kesulitan membaca”. Bryan dan Bryan seperti yang dikutip oleh Mercer (1979:200) mendefinisikan disleksia sebagai suatu sindroma kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat, mengintegrasikan komponen-komponen kata dan kalimat, dan dalam belajar segala sesuatu yang berkenaan dengan waktu, arah, dan masa. Menurut Lerner seperti yang dikutip oleh Mercer (1979:200) defini kesulitan belajar membaca atau disleksia sangat bervariasi, tetapi semuanya menunjuk pada adanya gangguan pada fungsi otak.
Penyandang disleksia adalah orang yang tajam secara visual/gambar, berdaya intuisi tinggi, dan pemikir multidimensional. Jadi, desleksia bukanlah sebuah ketidakmampuan intelektual. Salah satu tanda disleksia adalah pada saat anda memberikan sebuah buku yang belum dikenal kepada seorang anak untuk diceritakan kembali, maka dia mengungkapkannya dengan gambar dan cerita yang tidak berkaitan.
Disleksia ditandai dengan adanya kesulitan membaca pada anak-anak yang seharusnya menunjukkan kemampuan dan motivasi untuk membaca secara fasih dan akurat. Disleksia merupakan salah satu masalah tersering yang terjadi pada anak-anak.
Terdapat beberapa pengertian disleksia yang dikemukakan oleh para ahli seperti berikut :
a.    Disleksia sebagai kesulitan membaca berat pada anak yang berintelegensi normal dan bermotivasi cukup, berlatar belakang budaya yang memadai dan berkesempatan memperoleh pendidikan serta tidak bermasalah emosional (Guszak, 1985).
b.    Disleksia adalah suatu bentuk kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen hiamat, yang secara historis menunjukkan perkembangan bahasa lambat dan hampir selalu bermasalah  dalam menulis dan mengeja serta kesulitan dalam mempelajari sistem represensional misalnya berkenaan dengan waktu, arah, dan masa (Bryan & Bryan dikutif Mercer, 1987).
c.    Disleksia adalah bentuk kesulitan belaiar membaca dan menulis terutama belajar mengeja secara betul dan mengungkapkan pikiran secara tertulis dan ia telah pernah memanfaatkan sekolah normal serta tidak memperlihatkan keterbelakangan dalam mata pelajaran-mata pelajaran lainnya ( Hornsby dalam Sodiq, 1996:4)
National Institute of Child Health mendefinisikan disleksia sebagai gangguan spesifik berbasis bahasa, yang bersifat bawaan dan ditandai dengan kesulitan mengartikan satu kata tunggal, yang biasanya mencerminkan kemampuan pemprosesan fonologis yang tidak memadai. Kesulitan mengartikan satu kata tunggal ini sering kali tak terduga jika dikaitkan dengan usia serta kemampuan kognitif dan akademis lainnya. Kesulitan ini bukanlah akibat dari kesulitan umum yang berkaitan dengan perkembangan atau kerusakan indera fisik. Disleksia ditunjukkan dengan kesulitan berbeda-beda dalam berbagai bentuk bahasa, yang sering kali mancakup juga suatu masalah dalam menguasai ketrampilan menulis dan mengeja.
B.   Ciri – ciri Anak yang Mengalami Kesulitan Membaca (Disleksia)
Anak kesulitan membaca sering memperhatikan kebiasaan membaca yang tidak wajar. Mereka sering memperlihatkan adanya gerakan-gerakan yang penuh ketegangan, seperti mengernyitkan kening, gelisah, irama suara meninggi atau menggigit bibir. Mereka juga sering memperlihatkan adanya perasaan tidak aman yang ditandai dengan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau mencoba melawan guru. Anak kesulitan belajar membaca juga sering memegang buku bacaan yang terlalu menyimpang dari kebiasaan anak normal, yaitu jarak antara mata dan buku bacaan kurang dari 15 inci (kurang lebih 37,5cm). Selain itu juga anak yang mengalami kesulitan membaca lamban, turun naik intonasinya, dan kata demi kata, sering membalikan huruf-huruf dan kata-kata, mengubah huruf pada kata, sering membalikan huruf-huruf dan kata-kata, mengubah huruf pada kata, kacau terhadap kata-kata yang hanya sedikit berbeda susunannya misalnya : bau, buah, batu dan lain sebagainya, mengabaikan tanda baca, dan mengganti satu kata lain, meskipun kata yang digantikan tidak mempunyai arti dalam konteksnya.
Pada umumnya ketika seseorang sedang membaca, sebenarnya ia sedang melakukan banyak langkah berikut:
1.      Membaca cepat (screening) huruf demi huruf yang menyusun kalimat pada tulisan tersebut dengan urutan yang benar, yaitu dari kiri ke kanan.
2.      Memindahkan huruf-huruf tersebut ke dalam kotak dalam waktu yang singkat.
3.      Mengenali pengelompokan huruf-huruf yang berbeda yang membentuk suatu kata tertentu (hal ini melibatkan identifikasi terhadap masing-masing huruf), dengan berbagai macam bentuk font atau model tulisan tangan yang ada.
4.      Membandingkan pengelompokan (dengan cara momor 3) dengan kata-kata yang sudah dikenali yang tersimpan dalam memori otak untuk mengenali bunyi dan arti kata-kata tersebut secara keseluruhan.
5.      Mengingat arti kata-kata tersebut dan menghubungkannya dengan kata-kata pada kalimat berikutnya untuk memahami seluruh isi tulisan.
6.      Menyelesaikan seluruh proses tersebut dalam hitungan detik, seiring dengan perpindahan pandangan mata yang beranjak dari kalimat satu ke kalimat-kalimat berikutnya.
Proses tersebut adalah proses yang dilakukan oleh orang normal dalam membaca. Namun, jika ada salah satu saja proses atau langkah di atas yang terlewati, seseorang akan mengalami kesulitan dalam membaca. Bagi para penderita diseleksia, masalah utama dalam membaca terletak pada menghubungkan antara kumpulan huruf dalam sebuah tulisan dengan kata-kata yang mereka ketahui melalui pengucapannya.
Ada sepuluh tanda-tanda umum yang dapat digunakan untuk melakukan identifikasi dini adanya kesulitan pemprosesan yang akan mempengaruhi kemampuan membaca, yaitu:
1.  Tidak dapat menyebutkan nama-nama huruf atau menyanyikan lagu abjad, terutama jika si anak memiliki kosakata yang baik
2.  Mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang dimulai dengan bunyi yang sama dari daftar tertulis, atau tidak dapat membedakan apakah dua kata yang terdiri dari satu suku kata punya bunyi yang sama atau berbeda (misalnya “get” dan “bet” atau “sit” dan “sat”). Anak-anak yang mulai duduk di taman kanak-kanak, seharusnya dapat mengenali bunyi awal dan akhir
3.  Kesulitan dalam menyebutkan kata yang berima atau mengenali rima
4.  Masalah dalam pengenalan fonologis, yaitu kemampuan mengidentifikasi dan mengurutkan bunyi-bunyi dalam sebuah kata (seperti, jika aku memilih kata “bat” dan aku hilangkan huruf b­-nya, jadi kata apa ya?)
5.  Tidak mengenal nama-nama warna atau bentuk
6.  Memiliki masalah wicara dan artikulasi, khususnya yang melibatkan penggunaan oromotor (kemampuan menggerak otot mulut dan mengatur sekresi seperti air ludah)
7.  Sulit mengingat urut-urutan otomatis seperti angka atau hari-hari dalam seminggu
8.  Masalah yang berkaitan dengan kegiatan motorik halus seperti menggambar lingkaran atau menyalin huruf, atau rangkaian motorik kasar seperti meloncat atau mengendarai sepeda roda tiga
9.  Sulit mengingat kembali kata-kata khusus (misalnya, menyebutkan nama gambar benda yang sudah dikenal, kecenderungan untuk mengganti kata yang dimaksud dengan kata bermakna serupa tetapi lebih jarang digunakan, atau mengganti dengan kata-kata yang memiliki hubungan semantis, seperti “jeruk” diganti “apel”, “mobil” diganti dengan “truk”)
10.         Kesalahan pengurutan dalam wicara (“kepala” dibaca dengan “kelapa”)
11.         Masalah dalam ingatan verbal, yaitu sulit mengingat kalimat atau cerita yang baru saja disampaikan.
Jika lebih dari satu atau dua tanda itu dijumpai pada seorang anak, sebaiknya dilakukan evaluasi yang lebih lengkap oleh seorang psikolog yang kompeten dengan spesialisasi dalam bidang membaca atau seorang neuropsikolog klinis yang dapat memastikan kesulitan pemrosesan dalam hal membaca dan juga cara-cara yang paling mungkin digunakan si anak untuk mempelajari koneksi huruf-bunyi.
Pada anak disleksia kesalahan-kesalahan membaca oral tersebut sering disertai oleh kelainan bicara, yaitu :
(1)  gangguan artikulasi
(2)   gagap, dan
(3)  pembalikan konsep waktu dan ruang misalnya kacau terhadap konsep belakang dan muka,atas bawah, kemarin dan besok
Selain itu pada anak disleksia sering juga ditandai adanya bentuk kesalahan mengeja dan kesalahan tulis, misalnya jika didiktekan kata pagar maka ditulis papar.
Menurut Ekwall & Shanker 1988 (dalam M.Sodia, A, 1996:6) ada beberapa simtom berkaitan dengan kasus kesulitan belajar membaca berat (disleksia):
1.         Pembalikan huruf dan kata, misalnya membalikan huruf b dengan d; p dengan a, u dengan n; kata kuda dengan daku, palu dengan lupa; tali dengan ilat; satu dengan utas.
2.         Pengingatan pada kata mengalami kesulitan atau tidak menentu (eratik)
3.         Membaca ulang oral (secara lisan) tak bertambah baik setelah menyusul.
4.         Membaca tanpa suara (dalam hati) atau membaca oral (secara lisan) yang pertama.
5.         Ketidaksanggupan menyimpan informasi dalam memori sampai waktu diperlukan.
6.         Kesulitan dalam konsentrasi.
7.         Koordinasi motorik tangan-mata lemah.
8.         Kesulitan pada pengurutan.
9.         Ketaksanggupan bekerja secara tepat.
10.      Penghilangan tentang kata-kata dan frasa.
11.      Kekacauan berkaitan dengan membaca secara lisan (oral) misalnya tak mampu membedakan antara d dan p.
12.      Diskriminasi auditori lemah.
13.      Miskin dalam sintaksis (ilmu tata bahasa), gagap, dan bicara terputus-putus.
14.      Prestasi belajar dalam berhitung tinggi dari pada dalam membaca dan mengeja.
15.      Hyperaktivitas.
Sementara itu Guszak ( dalam M.Sodik A, 1996: 6) mengemukakan ciri-­ciri anak disleksia sebagai berikut:
1.     Membalikan huruf atau kata.
2.     Kesulitan/tak mampu mengingat kata.
3.     Kesulitan/tak mampu menyimpan informasi dalam memori
4.     Sulit berkonsentrasi.
5.     Sulit dalam melihat keterhubungan (relationship).
6.     Impulsif
7.     Sulit melakukan koordinasi tangan-mata.
8.     Sulit dalam segi mengurutkan.
9.     Membaca lambat.
10.  Penanggalan kata, frasa dan sebagainya.
11.  Kekacauan membaca secara oral.
12.  Hyperaktif, dan
13.  Kinerja matematika secara signifikan lebih tinggi dari pada kinerja membaca.

Ada cara praktis yang dapat digunakan oleh orang tua untuk mengidentifikasin apakah anaknya mengalami disleksia atau tidak, yaitu dengan cara memberikan buku yang belum pernah anak tahu sebelumnya untuk dibaca oleh anak. Anak mungkin akan membuat cerita berdasarkan gambar-gambar yang ada di buku tersebut, tetapi antara gambar dan cerita tidak berkaitan. Disleksia akan diketahui setelah anak diminta untuk memfokuskan perhatiannya pada kata-kata dan membacanya dengan suara keras, dan anak diminta untuk menceritakan ulang teks-teks yang telah dibaca. Apabila anak tersebut tidak bisa melakukannya dan malah bercerita berdasarkan interpretasinya atas gambar-gambar yang ada di buku tersebut, kemungkinan besar anak tersebut menyandang disleksia.
Secara spesifik ciri-ciri anak disleksia dalam membaca adalah sebagai berikut:
1.     Membaca dengan amat lamban dan terkesan tidak yakin dengan apa yang ia ucapkan
2.     Menggunakan jarinya untuk mengikuti pandangan matanya yang beranjak dari satu teks ke teks berikutnya.
3.     Melewatkan beberapa suku kata, kata, fase, bahkan baris-baris dalam teks yang dibaca.
4.     Menambahkan kata-kata atau frasa-frasa yang tidak ada dalam teks yang dibaca.
5.     Membolak-balik susunan huruf atau suku kata dengan memasukkan huruf-huruf lain.
6.     Salah melafalkan kata-kata yang sedang ia baca walaupun kata-kata tersebut sudah akrab.
7.     Mengganti satu katu dengan kata lainnya sekalipun kata yang diganti tidak memiliki arti penting dalam teks yang  dibaca.
8.     Membuat kata-kata sendiri yang tidak memiliki arti
9.     Mengabaikan tanda-tanda baca
Secara spesifik ciri-ciri anak disleksia ketika belajar menulis adalah sebagai berikut:
1.     Menuliskan huruf-huruf dengan urutan yang salah dalam sebuah kata
2.     Tidak menuliskan sejumlah huruf dalam kata-kata yang ingin ia tulis
3.     Menambahkan huruf-huruf pada kata-kata yang ingin ia tulis
4.     Mengganti satu huruf dengan huruf lainnya, sekalipun bunyi huruf-huruf tersebut tidak sama
5.     Menuliskan sederet huruf yang tidak memiliki hubungan sama sekali dengan bunyi kata-kata yang ingin dia tuliskan
6.     Mengabaikan tanda-tanda baca yang terdapat dalam teks-teks yang sedang dia baca.



C. Faktor Penyebab Disleksia
Penyebab utama disleksia adalah faktor internal, yaitu kemungkinan adanya disfungsi neurologis.Disfungsi neurologis sering tidak hanya menyebabkan kesulitan belajar tetapi juga menyebabkan tunagrahita dan gangguan emosional. Berbagai faktor yang dapat menyebabkan disfungsi neurologis yang pada gilirannya dapat menyebabkan kesulitan belajar antara lain:
1.  Faktor genetik
2.  Luka pada otak karena trauma fisik atau karena kekurangan oksigen
3.  Biokimia yang hilang (misalnya biokimia yang diperlukan untuk memfungsikan syaraf pusat)
4.  Biokimia yang merusak otak (misalnya zat pewarna pada makanan), pencemaran lingkungan (misalnya pencemaran timah hitam), gizi yang tidak memadai.
5.  Pengaruh-pengaruh psikologis dan sosial yang merugikan perkembangan anak (deprivasi lingkungan).
Dari berbagai penyebab tersebut dapat menimbulkan gangguan dari taraf yang ringan hingga taraf berat.

Berbagai Kesalahan Membaca
Anak-anak yang mengalami disleksia mengalami berbagai kesalahan dalam membaca sebagai berikut:
1. Penghilangan huruf atau kata
Penghilangan huruf atau kata biasanya terjadi pada pertengahan atau akhir kata atau kalimat. Penyebab dari penghilangan huruf tersebut adalah karena anak menganggap huruf atau kata yang dihilangkan tersebut tidak diperlukan. Contoh penghilangan huruf atau kata adalah “baju anak itu merah” dibaca “baju itu merah”.
2. Penyelipan kata
Penyelipan kata terjadi karena anak kurang mengenal huruf, membaca terlalu cepat, atau karena bicaranya melampaui kecepatan membacanya. Contohnya adalah kalimat “baju mama di lemari” dibaca “baju mama ada di lemari”.
3. Penggantian kata
Penggantian kata merupakan kesalahan yang banyak terjadi. Hal ini disebabkan karena anak tidak memahami kata tersebut sehingga hanya menerka-nerka saja. Contohnya adalah kalimat “tas Ayah di dalam mobil” dibaca “tas Bapak di dalam mobil”.
4. Pengucapan kata salah
Pengucapan kata yang salah terdiri dari tiga macam,yaitu: (1) pengucapan kata yang salah dan makna berbeda, (2) pengucapan kata salah tetapi makna sama, (3) pengucapan kata salah dan tidak bermakna. Keadaan semacam ini dapat terjadi karena anak tidak mengenal huruf sehingga menduga-duga saja, mungkin karena membaca terlalu cepat, karena perasaan tertekan atau takut pada guru, atau karena perbedaan dialek anak dengan bahasa Indonesia yang baku. Contoh pengucapan kata yang salah dan makna berbeda adalah kalimat “baju Bibi baru” dibaca “baju Bibi biru”; contoh pengucapan kata salah tetapi makna sama adalah kalimat “Kakak pergi ke sekolah” dibaca “Kakak pigi ke sekolah” dan contoh pengucapan kata salah dan tidak bermakna adalah kalimat “Bapak beli duren” dibaca “Bapak bei buren”.
5. Pengucapan kata dengan bantuan guru
Terjadi jika guru ingin membantu anak melafalkan kata-kata. Hal ini terjadi karena sudah beberapa menit ditunggu oleh guru anak belum juga melafalkan kata-kata yang diharapkan. Anak yang memerlukan bantuan ini biasanya karena mengalami kekurangan dalam mengenal huruf atau karena takut resiko jika terjadi kesalahan. Anak semacam ini biasanya juga memiliki kepercayaan diri kurang, terutama pada saat menghadapi tugas membaca.
6. Pengulangan
Pengulangan dapat terjadi pada kata, suku kata, atau kalimat. Contoh pengulangan adalah “Bab-ba-ba Bapak menulis su-su-surat”. Pengulangan terjadi mungkin karena kurang mengenal huruf sehingga harus memperlambat membaca sambil mengingat-ingat nama huruf yang kurang dikenal tersebut. Kadang-kadang anak sengaja mengulang kalimat untuk lebih memahami arti kalimat tersebut.
7. Pembalikan huruf
Pembalikan huruf terjadi karena anak bingung posisi kiri-kanan, atau atas-bawah. Pembalikan terjadi terutama pada huruf-huruf yang hampir sama seperti d dengan b, p dengan q atau g, m dengan n atau w.
8. Pembetulan sendiri
Pembetulan sendiri dilakukan oleh anak jika ia menyadari adanya kesalahan. Karena kesadaran akan adanya kesalahan, anak lalu mencoba membetulkan sendiri bacaannya.
9. Ragu-ragu dan tersendat-sendat
Anak yang ragu-ragu terhadap kemampuannya sering membaca dengan tersendat-sendat. Murid yang ragu-ragu dalam membaca sering dianggap bukan sebagai kesalahan. Meskipun demikian guru umumnya berupaya untuk memperbaiki karena dianggap sebagai kebiasaan yang tidak baik. Keraguan dalam membaca juga sering disebabkan anak kurang mengenal huruf atau karena kekurangan pemahaman.
D.   Karakteristik disleksia
Ada empat kelompok karakteristik kesulitan belajar membaca, yaitu kebiasaan membaca, kekeliruan mengenal kata, kekeliruan pemahaman, dan gejala-gejala serba aneka.
·      Dalam kebiasaan membaca anak yang mengalami kesulitan belajr membaca sering tampak hal-hal yang tidak wajar, sering menampakkan ketegangannya seperti mengernyitkan kening, gelisah, irama suara meninggi, atau menggigit bibir. Mereka juga merasakan perasaan yang tidak aman dalam dirinya yang ditandai dengan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau melawan guru. Pada saat mereka membaca sering kali kehilangan jejak sehingga sering terjadi pengulangan atau ada barisyang terlompat tidak terbaca.
·      Dalam kekeliruan mengenal kata ini memcakup penghilangan, penyisipan, penggantian, pembalikan, salah ucap, perubahan tempat, tidak mengenal kata, dan tersentak-sentak ketika membaca.
·      Kekeliruan memahami bacaan tampak pada banyaknya kekeliruan dalam menjawab pertanyaan yang terkait dengan bacaan, tidak mampu mengurutkan cerita yang dibaca, dan tidak mampu memahami tema bacaan yang telah dibaca.
·      Gejala serba aneka tampak seperti membaca kata demi kata, membaca dengan penuh ketegangan, dan membaca dengan penekanan yang tidak tepat.
















BAB IV
RANCANGAN SOLUSI

Adapun solusi atau pemecahan masalah yang ditawarkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi anak yang mengalami gangguan membaca atau yang biasa disebut Disleksia dapat menggunakan metode-metode berikut, diantaranya :
Ada beberapa metode pengajaran membaca bagi anak berkesulitan belajar, yaitu:
1. Metode Fernald
Merupakan metode pengajaran membaca multisensoris yang sering dikenal dengan metode VAKT (visual, auditory, kinesthetic, and tactile). Metode ini menggunakan materi bacaan yang dipilih dari kata-kata yang diucapkan oleh anak, dan tiap kata diajarkan secara utuh. Metode ini memiliki 4 tahapan, yaitu:
a.  Tahap pertama, guru menulis kata yang hendak dipelajari di atas kertas dengan krayon. Selanjutnya anak menelusuri tulisan tersebut dengan jarinya (tactile and kinesthetic). Pada saat anak menelusuri tulisan tersebut, anak melihat tulisan (visual), dan mengucapkannya dengan keras (auditory). Proses semacam ini diulang-ulang sehingga anak dapat menulis kata tersebut dengen benar tanpa melihat contoh. Jika anak telah dapat membaca dan menulis dengan benar, bahan bacaan tersebut disimpan.
b.  Tahap kedua, anak tidak terlalu lama diminta menelusuri tulisan-tulisan dengan jari, tetapi mempelajari tulisan guru dengan melihat guru menulis, sambil mengucapkannya.
c.   Tahap ketiga, anak-anak mempelajari kata-kata baru dengan melihat tulisan yang ditulis di papan tulis atau tulisan cetak, dan mengucapkan kata tersebut sambil  menulis. Pada tahap ini anak mulai membaca tulisan dari buku.
d.  Tahap keempat, anak mampu mengingat kata-kata yang dicetak atau bagian-bagian dari kata yang telah dipelajari.
2. Metode Gillingham
Merupakan pendekatan terstruktur taraf tinggi yang memerlukan lima jam pelajaran selama dua tahun. Aktivitas pertama diarahkan pada belajar berbagai bunyi huruf dan perpaduan huruf-huruf tersebut. Anak menggunakan teknik menjiplak untuk mempelajari berbagai huruf. Bunyi-bunyi tunggal huruf selanjutnya dikombinasikan ke dalam kelompok-kelompok yang lebih besar dan kemudian program fonik diselesaikan.
3. Metode Analisis Glass
Merupakan suatu metode pengajaran melalui pemecahan sandi kelompok huruf dalam kata. Metode ini bertolak dari asumsi yang mendasari membaca sebagai pemecahan sandi atau kode tulisan. Ada dua asumsi yang mendasari metode ini, yaitu:
1.  Pertama, proses pemecahan sandi (decoding) dan membaca (reading) merupakan kata yang berbeda.
2.  Kedua, pemecahan sandi mendahului membaca.
Pemecahan sandi didefinisikan sebagai menentukan bunyi yang berhubungan dengan suatu kata tertulis secara tepat. Membaca didefinisikan sebagai menurunkan makna dari kata-kata yang berbentuk tulisan. Jika anak tidak dapat melakukan pemecahan sandi tulisan secara efisien, maka mereka tidak akan belajar membaca. Glass mengemukakan adanya empat langkah dalam mengajarkan kata, yaitu:
1.  Mengidentifikasi keseluruhan kata, huruf, dan bunyi kelompok-kelompok huruf.
2.  Mengucapkan bunyi-bunyi kelompok huruf-huruf.
3.  Menyajikan kepada anak, huruf atau kelompok huruf dan meminta untuk mengucapkannya.
4.  Guru mengambil beberapa huruf atau pada kata tertulis dan anak diminta mengucapkan kelompok huruf yang masih tersisa.
Contoh pengajaran dengan metode ini dengan menggunakan kata bapak adalah sebagai berikut:
Kepada anak diperlihatkan kata bapak yang tertulis pada kartu. Guru bertanya, “Dalam kata bapak ini, bunyi apa yang dibuat oleh huruf b? Bunyi apa yang dibuat oleh huruf apak? Jika huruf k digunakan untuk menggantikan huruf b, bagaimana bunyi kata itu?
Dengan metode ini anak akan merespons secara visual maupun auditoris terhadap kelompok-kelompok huruf. Menurut Glass hal semacam ini memungkinkan anak mampu memecahkan sandi, dan mengumpulkan kembali huruf-huruf ke dalam bentuk kata yang utuh.
Beberapa waktu yang lalu, saya bersama teman saya mencoba untuk membuat rancangan intervensi untuk anak disleksia. tapi perlu digarisbawahi bahwa rancangan intervensi ini tidak dapat digunakan untuk semua penyandang disleksia. Jujur, kami juga belum sempat mengujicobakan permainan yang kami buat ini, tetapi permainan kami ini mengadaptasi dari beberapa metode yang sudah dijelaskan diatas.

Permainan ini kami beri nama “MY SCRABBLE”.  Memang permainan ini mengadaptasi dari permainan scrabble pada umumnya, tetapi dengan beberapa modifikasi.
1.  Tujuan spesifik       : permainan ini didesain untuk membantu anak untuk memaksimalkan kemampuannya dalam mengidentifikasi huruf dan untuk memahami kata-kata yang tersusun melalui rangkaian huruf-huruf dengan media bermain.
2.  Cara bermain          :
My Scrabble:
Alat: Huruf timbul, papan scrabble, kartu yang berisi kata-kata, dan kartu bintang.
Tahap 1:
Anak diberikan satu kata sederhana dari kartu yang telah disediakan, kemudian pendamping menyebutkan kata tersebut. Pendamping kemudian mengambilkan huruf-huruf yang merangkai kata tersebut dan diserahkan kepada anak. Anak diminta untuk mengamati huruf, meraba bentuknya dan melafalkan masing-masing huruf dengan lantang. Kemudian anak diminta untuk menyusun huruf tersebut sesuai dengan kata yang telah disebutkan oleh pendamping pada papan scrabble yang telah disediakan. Jika benar, pendamping akan mengambil kartu berikutnya dan menyebutkan kata tersebut dan anak diminta untuk memainkan sesuai dengan prosedur yang telah tertulis di atas. Jika gagal pada percobaan pertama, pendamping diminta untuk mengulang prosedur sesuai dengan percobaan pertama. Jika anak tetap gagal pada percobaan ke dua, anak tetap diperbolehkan untuk melanjutkan permainan agar anak tidak bosan. Jangan lupa berikan kartu bintang dan pujian jika anak berhasil memainkan mainan dari tiap kartu yang diambil.
Tujuan   : tahap ini diberikan jika anak belum begitu lancar dalam memahami kata namun sudah cukup baik dalam mengenal huruf. Sehingga anak dapat belajar mengenai rangkaian kata sekaligus memperdalam ingatan tentang bentuk-bentuk huruf yang kurang dikuasainya.
Tahap 2:
Anak diminta untuk menyebutkan satu kata bebas untuk memulai permainan. Anak diminta untuk mengambil huruf, kemudian mengeja secara cepat huruf-huruf tersebut sambil diletakkan pada papan scrabble dengan susunan tertentu. Jika anak gagal dalam mengambil huruf atau pada saat mengeja huruf sesuai dengan kata yang telah disebutkan oleh anak, pendamping harus membantu anak untuk membetulkan kesalahannya. Jika anak berhasil dalam permainan pertamanya, anak diperbolehkan untuk melanjutkan permainan dengan cara menyebutkan kembali kata bebas dimana salah satu huruf pada kata bebas tersebut harus ada pada kata yang telah tersusun pada papan scrabble. Jika anak terlihat kesulitan untuk menyebutkan kata bebas tersebut, anak diperbolehkan untuk memilih kata dari kartu kata yang telah disediakan yang memungkinkan untuk dipasangkan pada kata yang telah tersusun pada papan scrabble. Jika anak terlihat kesulitan untuk menyebutkan ataupun mencari kata yang memungkinkan untuk dipasangkan pada papan, pendamping harus membantu dengan cara menstimulasi anak atau memilihkan beberapa kata agar dapat dipilih oleh anak dengan syarat kata tersebut harus dapat dipasangkan pada papan scrabble dengan susunan huruf yang tepat. Jika anak memilih kartu yang berisi kata-kata, anak tetap harus mengeja huruf dan membacanya dengan suara lantang. Jangan lupa untuk memberikan kartu bintang dan pujian jika anak berhasil menyelesaikan permainannya.
Tujuan   : tahap kedua bertujuan untuk memaksimalkan kemampuan anak dalam merangkai kata-kata. Tahap ini diberikan jika anak dinilai sudah dapat mengenal huruf dari A-Z dengan baik namun kemampuan membaca dan merangkai katanya belum berkembang dengan optimal.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Retardasi Mental. http://mustwkupang.blogspot.com/2010/10/dyslogia-karena-gangguan-mental.html , diakses Senin 17 Desember 2013.

______, Pengertian dan Akibat dari Disleksia. http://dloepiq.blogspot.com/2012/12/pengertian-dan-akibat-dari-disleksia.html, diakses 17 Desember 2013

Davidson, C Gerald, dkk. 2006. Psikologi Abnormal. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Kalengkongan, Kendis. Jurnal Kasus Disleksia dan contoh Kasus. http://catatankeperawatankend.blogspot.com/2013/04/jurnal-kasus-disleksia-dan-contoh-kasus.html, diakses Senin, 17 Desember 2013.

Larasati, Septi Putri. Dyslexia. http://nyepsycho.wordpress.com/tag/dyslexia/, diakses Senin 17 Desember 2013.

Romiariyanto. Disleksia. http://romiariyanto.blogspot.com/2011/04/disleksia.html, diakses  Senin 17 Desember 2013.

Weinstein, Lissa. 2008. Living With Dyslexia. Bandung: Qanita.

Yustitia, Dwi Rima. Kesulitan Membaca (Disleksia). http://rimamss.blogspot.com/2013/01/pengertian-disleksia.html , diakses Senin 17 Desember 2013.
                                              


Tidak ada komentar:

Posting Komentar